Dispar Dinilai Gagal Manfaatkan Status Internasional Bandara Pattimura

Rudy Sopa Berita 18 November 2025 41 kali Dispar Dinilai Gagal Manfaatkan Status Internasional Bandara Pattimura Anggota DPRD Provinsi Maluku, John Laipeny.

MERINDUDPRD.COM, AMBON - Anggota DPRD Provinsi Maluku, John Laipeny melontarkan kritik tajam terhadap kinerja Dinas Pariwisata (Dispar) Provinsi Maluku. Pasalnya, Dispar dinilai kurang inovatif dan kreatif dalam mengembangkan potensi pariwisata daerah, terutama setelah Bandara Pattimura kembali berstatus internasional. 

Kritik ini menyoroti kurangnya pemanfaatan momentum penting untuk mendongkrak sektor pariwisata Maluku.

Laipeny secara terbuka mengkritik Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Maluku, Achmad Jais Ely atas ketidakmampuannya, dalam memaksimalkan potensi besar yang dimiliki Maluku, yang dikenal sebagai "daerah seribu pulau." 

Menurutnya, kembalinya Bandara Pattimura sebagai bandara internasional seharusnya menjadi pemicu utama, untuk transformasi sektor pariwisata Maluku.

"Momentum ini harus dimanfaatkan secara optimal dengan menata ulang strategi promosi pariwisata, pengelolaan destinasi yang lebih profesional, serta meningkatkan kolaborasi investasi yang melibatkan berbagai pihak," tegas Laipeny kepada wartawan, di Ambon, Selasa (18/11/2025).

Sebagai Wakil Ketua Komisi II DPRD Provinsi Maluku, yang membidangi sektor ekonomi dan keuangan, Laipeny memiliki fokus khusus pada pengembangan pariwisata, sebagai sumber pendapatan daerah yang signifikan.

Dia juga menekankan, bahwa sektor pariwisata membutuhkan pemimpin yang tidak hanya kreatif, tetapi juga responsif terhadap perubahan dan peluang. 

Ia menegaskan, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Maluku harus berperan sebagai manajer profesional yang tidak hanya menjalankan program rutin, tetapi juga membuka peluang investasi baru dan menggandeng pelaku industri pariwisata untuk berkolaborasi.

"Status internasional Bandara Pattimura harus diimbangi, dengan penerapan manajemen modern di sektor pariwisata. Kepala Dinas Pariwisata harus bertindak sebagai manajer yang mampu menarik investor dari dalam dan luar negeri, serta mendorong pelaku usaha lokal untuk terus berkembang, dan meningkatkan kualitas layanan," ujar Laipeny. 

Lebih lanjut, Laipeny menyoroti minimnya atraksi budaya, yang dapat memikat wisatawan saat tiba di Ambon. Menurutnya, identitas budaya adalah elemen penting, dalam menciptakan pengalaman wisata yang berkesan. 

Ia berpendapat, bahwa Kota Ambon masih kurang dalam menyajikan pertunjukan dan kegiatan budaya, yang menarik perhatian wisatawan.

"Ketika wisatawan datang ke Ambon, seharusnya ada pertunjukan budaya yang hidup dan dinamis. Tarian tradisional, musik jalanan, dan hiburan kota yang mencerminkan kekayaan budaya Maluku. Semuanya harus terlihat dan terasa. Sayangnya, saat ini hal tersebut masih sangat minim," ungkapnya. 

Untuk itu Laipeny berharap, Dinas Pariwisata dapat lebih serius mengembangkan atraksi budaya, yang dapat menjadi daya tarik utama bagi wisatawan yang berkunjung ke Maluku.

Laipeny juga menyoroti pentingnya promosi pariwisata yang lebih efektif dan inovatif. Ia menyarankan agar Dinas Pariwisata memanfaatkan teknologi digital dan media sosial untuk menjangkau pasar yang lebih luas. 

"Perlunya peningkatan kualitas infrastruktur pariwisata, seperti akomodasi, transportasi, dan fasilitas umum, agar wisatawan merasa nyaman dan betah selama berkunjung ke Maluku," ujar dia. 

Dengan kritik ini, Laipeny berharap Dinas Pariwisata Provinsi Maluku dapat segera berbenah diri, dan mengambil langkah-langkah konkret, untuk mengembangkan sektor pariwisata Maluku secara berkelanjutan. 

"Saya mengajak seluruh pihak terkait, termasuk pemerintah daerah, pelaku usaha pariwisata, dan masyarakat, untuk bersama-sama mendukung upaya pengembangan pariwisata Maluku demi kesejahteraan bersama," tandas dia.


Berikan Komentar
Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin