DPRD Maluku Sayangkan Wisata Bahari di Maluku Terabaikan

Rudy Sopa Berita 18 November 2025 47 kali DPRD Maluku Sayangkan Wisata Bahari di Maluku Terabaikan Anggota DPRD Provinsi Maluku, John Laipeny.

MERINDUDPRD.COM, AMBON - Anggota DPRD Provinsi Maluku, John Laipeny, kembali melayangkan kritik pedas terhadap kinerja Dinas Pariwisata (Dispar) Provinsi Maluku. Setelah sebelumnya, menyoroti kurangnya kreativitas dalam memanfaatkan status internasional Bandara Pattimura, kali ini Laipeny menyoroti lemahnya pengembangan wisata bahari, dan mahalnya biaya transportasi yang menghambat pertumbuhan sektor pariwisata Maluku.

Laipeny menilai Dinas Pariwisata belum optimal dalam menggarap potensi wisata bahari yang sangat kaya di Maluku.

Menurutnya, Maluku memiliki banyak spot kelas dunia, yang seharusnya bisa menarik minat wisatawan, namun fasilitas pendukung seperti fasilitas diving, sarana transportasi, dan layanan dasar masih jauh tertinggal, dibandingkan destinasi wisata lainnya.

"Maluku memiliki potensi wisata bahari yang luar biasa, tetapi sayangnya belum dikelola dengan baik. Kita memiliki banyak spot diving yang indah, tetapi fasilitasnya masih minim. Ini tentu menjadi kendala bagi wisatawan, yang ingin menikmati keindahan bawah laut Maluku," ujar Laipeny kepada wartawan, di Ambon, Selasa (18/11/2025). 

Selain itu, Laipeny juga menyoroti tingginya biaya perjalanan menuju daerah-daerah unggulan di Maluku, seperti Maluku Barat Daya (MBD) dan Kepulauan Kei.

Menurut dia, mahalnya harga tiket pesawat menjadi salah satu faktor utama, yang membuat wisatawan enggan berkunjung ke Maluku.

"Rute Ambon–MBD atau Ambon-Kei saja rata-rata di atas Rp1,5 juta. Ini sangat mahal dan memberatkan wisatawan. Pemerintah daerah harus mencari solusi bersama, untuk mengatasi masalah ini," tegas Laipeny.

Laipeny juga mendorong Dinas Pariwisata untuk tidak ragu melakukan kerjasama lintas daerah guna mengembangkan sektor pariwisata Maluku. 

Ia mencontohkan potensi kerja sama dengan Nusa Tenggara Timur (NTT) yang telah lebih maju dalam mengelola industri pariwisata.

"Arus wisatawan dari Laut Selatan bisa diarahkan ke Maluku. Paket wisata Labuan Bajo bisa diperpanjang sampai MBD. Ini perlu dijajaki, bukan menunggu wisatawan datang lalu tidak ada yang ditawarkan," katanya.

Ia mengingatkan, bahwa pariwisata Maluku tidak bisa berkembang tanpa jaringan yang kuat. Kolaborasi antarprovinsi, kemitraan dengan investor, serta promosi intensif harus menjadi fokus utama pemerintah daerah. 

Laipeny juga mendorong, agar event internasional, termasuk Ambon–Darwin Yacht Race, kembali dihidupkan sebagai magnet wisata.

Namun, Laipeny menekankan bahwa semua upaya tersebut akan sia-sia, jika infrastruktur dasar dan fasilitas layanan tidak ditingkatkan. Ia mencontohkan pentingnya perbaikan jalan, penyediaan air bersih, dan peningkatan kualitas akomodasi.

"Pariwisata harus dikelola dengan profesional. Kalau manajemen kuat dan fasilitas terawat, meskipun mahal, wisatawan tetap akan datang," tandasnya.

Laipeny berharap Dinas Pariwisata Provinsi Maluku dapat segera mengambil langkah-langkah konkret, untuk mengatasi berbagai permasalahan yang menghambat pertumbuhan sektor pariwisata Maluku. 

Ia juga mengajak seluruh pihak terkait, termasuk pemerintah daerah, pelaku usaha pariwisata, dan masyarakat, untuk bersama-sama mendukung upaya pengembangan pariwisata Maluku demi kesejahteraan bersama. 

"Dengan pengelolaan yang profesional dan kolaborasi yang baik, saya yakin Maluku dapat menjadi destinasi wisata unggulan, yang mampu bersaing dengan daerah lain di Indonesia," tutup Laipeny.


Berikan Komentar
Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin